Serangan Bom Kimia Di Suriah
Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru
·
Kirim
Gedung Putih mengatakan 'sangat yakin'
bahwa pemerintah Bashar al-Assad berada di balik serangan kimia yang menewaskan
sedikitnya 58 orang di Suriah.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi melaporkan
bahwa serangan terhadap kota Khan Sheikhoun yang dilancarkan oleh pemerintah
Suriah atau jet Rusia telah menyebabkan banyak orang tersedak. ”Lebih parah
lagi , pesawat menembakkan roket ke klinik yang mengobati korban”, kata petugas
medis dan aktivis.
Tentara Suriah membantah bahwa pemerintah menggunakan senjata kimia seperti
itu.
Dalam pernyataannya, Presiden Donald Trump mengutuk apa yang disebutnya
'tindakan keji' oleh rezim Bashar al-Assad.
"Jelas bahwa inilah cara Bashar al-Assad beroperasi," kata
Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, "dengan brutal, dan barbarisme yang
tak tahu malu."
Dari peristiwa ini ,Dewan Keamanan PBB, hari Rabu (05/04) akan menggelar
sidang darurat terkait serangan ini.
Inilah sejumlah hal yang perlu Kita ketahui tentang serangan kimia itu.
Apa Yang Dilihat Saksi Atas Kejadian Tersebut?
§ Sejumlah pesawat
tempur dilaporkan menyerang daerah yang dikuasai pemberontak, Khan Sheikhoun,
sekitar 50km arah selatan dari kota Idlib, Selasa pagi, ketika banyak orang
masih tidur.
§ Hussein Kayal, seorang
fotografer untuk Edlib Media Center (EMC) yang pro oposisi mengatakan kepada
Associated Press bahwa ia dibangunkan oleh suara ledakan pada sekitar pukul
06:30 (09:30 WIB)
§ Ketika sampai di
lokasi kejadian, tidak tercium bau, katanya, dan ia menemukan orang tergeletak
di lantai, tidak bisa bergerak dan dengan mata membelalak
§ Mohammed Rasoul,
kepala lembaga layanan ambulans di Idlib mengatakan kepada BBC bahwa para
petugas medisnya menemukan orang-orang di jalanan yang tersedak, sebagian
anak-anak
§ Observatorium Suriah
untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), mengutip petugas medis yang merawat orang-orang
pingsan, muntah dan berbusa mulutnya
§ Seorang wartawan AFP
melihat seorang gadis muda, seorang perempuan dan dua orang tua tewas di rumah
sakit, semua dengan busa masih terlihat di sekitar mulut mereka
§ Wartawan juga
melaporkan bahwa rumah sakit itu terkena roket pada Selasa sore, mengakibatkan
jatuhnya puing-puing ke badan dokter yang sedang mengobati korban yang terluka.
§ Sumber proyektil tidak
jelas, tapi EMC dan jaringan Komite Koordinasi Lokal (LCC) yang beroposisi
mengatakan pesawat-pesawat tempur menyasar beberapa klinik.
§ Wartawan
pro-pemerintah kemudian mengutip sumber militer mengatakan telah terjadi
ledakan di sebuah pabrik senjata kimia al-Qaeda di Khan Sheikhoun yang
penyebabnya bisa oleh serangan udara atau kecelakaan.
§ Kementerian pertahanan
Rusia, sekutu Presiden Assad, bersikeras mereka tidak melakukan serangan udara
apa pun di daerah itu.
Berapa banyak Yang Menjadi Korban?
SOHR menyebutkan korban tewas sejumlah 58 orang, termasuk 11 anak-anak,
tapi Moh. Rasoul melaporkan bahwa yang tewas adalah 67 orang dan 300 orang
luka-luka.
Lembaga pemberitaan pro-oposisi, Step, mengatakan 100 meninggal.
Salah satu badan bantuan, Uni Perawatan Medis dan Organisasi-organisasi
Bantuan (UOSSM), menyebutkan korban tewas lebih dari 100.
EMC mengatakan sudah berhenti menghitung korban karena terlalu banyak.
Zat apa yang digunakan?
SOHR mengatakan tidak dapat memastikan apa sebenarnya zat kimia yang
dijatuhkan.
Namun, EMC dan LCC meyakini bahwa yang digunakan adalah zat saraf Sarin,
yang sangat beracun dan dianggap 20 kali lebih mematikan dibanding sianida.
Ahli senjata kimia Dan Kaszeta mengatakan bahwa untuk menentukan apakah
benar Sarin digunakan hanya dengan memeriksa video klip, sangat susah.
Dia menambahkan bahwa serangan itu bisa merupakan hasil dari bahan kimia
apa pun karena semua zat kimia cenderung "menimbulkan efek fisiologis yang
sama pada tubuh manusia."
Sarin hampir mustahil untuk dideteksi karena bening, tidak berwarna dan
tidak mengandung rasa, serta dalam bentuknya yang paling murni, tidak memiliki
bau.
Tentara Suriah, dalam sebuah pernyataan yang diposting di kantor berita
negara Sana, mengatakan tidak pernah dan tidak akan pernah menggunakan gas
beracun.
Pernahkah Sarin digunakan di Suriah
sebelumnya?
Negara-negara barat menuduh bahwa pada Agustus 2013, pemerintah Suriah
menembakkan roket yang diisi dengan Sarin ke sebuah daerah yang dikuasai
pemberontak di pinggiran Damaskus, menewaskan ratusan orang.
Presiden Assad membantah tuduhan itu, dan justru menyalahkan pemberontak,
tetapi dia kemudian setuju untuk menghancurkan persenjataan kimia Suriah.
Meskipun demikian, Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) masih
tetap mencatat berbagai penggunaan bahan kimia beracun dalam serangan di
Suriah.
Pada bulan Januari 2016, lembaga itu mengatakan sampel darah yang diambil
dari korban satu serangan menunjukkan korban telah terkena Sarin atau zat
seperti Sarin.
Bahan kimia lain yang dilaporkan:
§ Sebuah investigasi
bersama dengan PBB menyimpulkan pada Oktober lalu bahwa pasukan pemerintah
menggunakan klorin sebagai senjata setidaknya tiga kali antara tahun 2014 dan
2015
§ Mereka juga menemukan
bahwa kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS telah menggunakan zat
kimia yang melepuhkan kulit, sulfur mustard
§ Human Rights Watch
juga baru-baru ini menuduh helikopter pemerintah menjatuhkan bom yang
mengandung klorin ke daerah yang dikuasai pemberontak di Aleppo
Bagaimana Tanggapan Dunia sejauh ini?
§ "Serangan kimia
di Suriah terhadap warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, adalah
tindakan tercela" - Presiden AS Donald Trump
§ Utusan PBB untuk
Suriah Staffan de Mistura mengatakan, serangan itu 'mengerikan' dan bahwa harus
ada "identifikasi, tanggung jawab dan akuntabilitas yang jelas"
tentang pelakunya; Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat pada Rabu
(5/4)
§ "Sekali lagi
rezim Suriah akan menyangkal bukti dari keterlibatannya dalam pembantaian
ini," kata Presiden Prancis Francois Hollande
§ Menteri Luar Negeri
Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa Presiden Bashar al-Assad akan dinyatakan
bersalah untuk kejahatan perang jika terbukti rezimnya bertanggung jawab atas
serangan itu.


Komentar
Posting Komentar